Film Pendek 'Sandekala', Horor Biasa dengan Plot Twist Tak Terduga

Film pendek horor Sandekala
Youtube/Viddsee


Sebelum mengetahui film pendek Sandekala ini, sebetulnya saya sempat menonton beberapa film pendek horor karya anak bangsa. Kesimpulannya, hampir semua memiliki kelemahan di aspek cerita. Monoton, ikut-ikutan, dan itu-itu saja. Mungkin hanya film pendek yang berjudul 'makmum' saja yang bisa membuat adrenalin saya tergugah. Sisanya, ya biasa saja.


Namun beberapa hari ke belakang, atas rekomendasi pengguna Quora (link), saya kembali menemukan satu film pendek karya sutradara Indonesia yang cukup menarik perhatian saya. Ya, film itu berjudul Sandekala.


Sebelum masuk ruang, spoiler warning buat kamu yang keberatan jika tidak mau tahu dulu ceritanya sebelum menonton videonya. Silakan tonton dulu videonya di bawah tulisan ini. Tapi jika tidak keberatan, mari kita masuk.


Alur

Sebelum film dimulai, sebuah kalimat tentang kepercayaan masyarakat Indonesia muncul di menit pertama. Ialah tentang waktu magrib dan kehororannya. Suara azan berkumandang, dan film pun dimulai.

Di sebuah permukiman penduduk, seorang ibu dan anak perempuannya bermaksud akan pulang ke rumah. Sang ibu terlihat tergesa-gesa dan sangat gelisah. Waktu magrib telah tiba dan ia mungkin salah satu penganut kepercayaan soal waktu magrib itu.

Anak perempuannya juga punya ketakutan yang sama. Ia sering melirik ke beberapa lokasi yang terlihat sunyi dan menyeramkan. Sang ibu sampai menegurnya.

Beberapa saat kemudian, langkah anak perempuan itu berhenti di tengah persimpangan jalan setapak. Ia tidak mau melewati lorong yang memang sudah biasa mereka lewati setiap hari. Merasa janggal dengan sikap anaknya, sang ibu akhirnya menuruti kemauan anaknya itu. Mereka berdua memilih jalan yang lain.

Tak disangka, beberapa langkah mereka berjalan, keanehan terjadi. Mereka tidak pernah sampai ke rumah, justru malah kembali ke titik persimpangan tadi. Sempat beberapa kali mereka melalui jalan yang sama, namun hasilnya tetap kembali ke persimpangan itu.

Mereka berdua mulai panik. Sang ibu bahkan sampai kesal dengan sikap anaknya yang kekeuh tidak mau melewati jalan biasanya. Dengan sedikit memaksa, akhirnya sang ibu memutuskan untuk melalui jalan biasanya saja. Pada adegan ini, kamu akan mendapat jumpscare yang cukup mengesalkan. Hati-hati saja.

Saat berjalan di tempat yang cukup gelap itu, kejadian aneh masih menimpa mereka. Kali ini, jalan yang mereka lalui seperti terus memanjang tanpa ujung. Berjalan cepat pun tak membuat mereka sampai ujung jalan. Mereka berdua semakin panik, suara gamelan dan sinden yang sedang bernyanyi juga menghantui mereka di jalan sempit itu.

Sang ibu mencoba menenangkan diri. Ia berjalan perlahan-lahan hingga akhirnya sampai di ujung jalan. Selepas itu, mereka berdua kemudian berlari sekuat tenaga hingga berada di pintu rumah mereka. Dengan rasa panik yang masih menjalar di tubuhnya, sang ibu membuka dompet, hendak mengambil kunci rumah. Bergegas ia memasukan kunci itu ke lubang pintu rumahnya. Setelah terbuka, mereka berdua segera memasukinya.

Nahas, rasa tenang yang mereka harapkan belum juga didapatkan. Pintu rumah itu ternyata hanya sebuah ilusi yang mengantar mereka kembali ke persimpangan jalan tadi. Filmpun berakhir.

Plus (+)

saat melihat judul filmnya saja, saya dibuat tertarik dengan film pendek Sandekala ini. Lebih keren saja dilihatnya. Dibanding memilih judul 'senjakala', judul ini jauh lebih indah dan terkesan misterius untuk saya.

Soal cerita di film pendek ini memang agaknya cukup ramping, terkesan biasa saja. Hanya soal orang tersesat, yang kemudian berujung dengan kembali ke tempat yang pernah dilalui sebelumnya. Untung saja, plot twist di akhir cerita cukup membuat saya terkesima dan membelalakan mata.

Atmosfer film ini juga cukup membantu menghidupkan jalannya cerita. Dibalut dengan suasana magrib yang sangat sepi, bulu kudukmu bisa berdiri saat menonton film ini. Meski tidak begitu gelap, namun cukup berhasil membangun suasana mencekam waktu magrib.

Dibanding dengan film pendek lain yang mengusung konsep sama, bahkan mirip, film ini jauh lebih berasa meski dengan durasi yang singkat saja. Kualitas akhir cerita juga jauh lebih menarik.

Entah ini perasaan saya saja, film ini sepertinya tidak dibuat tepat saat magrib. Mungkin siang atau sore. Pasalnya lampu depan di banyak rumah tidak menyala. Maka sutradara cukup cerdas dengan menampilkan lampu pijar yang berkedip untuk mewakili minus itu.

Minus (-)

Menurut saya pribadi, saya cukup terganggu dengan kehadiran pemeran ketiga di film ini. Kecuali kemunculannya yang mengagetkan, karakter kuntilanak di film ini agaknya masih kurang begitu dibutuhkan. Entah apa yang terjadi jika si hantu lebih baik dihilangkan, atau mencari konsep lain lagi. Mungkin film Sandekala akan jauh lebih enak untuk ditonton. Padahal tanpa adegan jumpscare itupun, saya sudah cukup menikmati sensasi seramnya.

Kemudian, soal aspek sinematografi, saya sedikit punya unek-unek pribadi di sini. Beberapa gerakan kamera yang tidak begitu stabil, cukup mengganggu kenikmatan menonton film ini. Di beberapa bagian, anglenya juga tidak begitu baik dan kurang berperan penting dalam film. Hal ini cukup jomplang dengan pemilihan color grading yang menurut saya sudah pas.

Skala Angka

  • Cerita: 7/10
  • Atmosfer: 8/10
  • Act: 6/10
  • Audiovisual: 6/10
Maka, untuk kesuluran skala angka film pendek Sandekala ini saya berikan angka 6,75. Film ini cukup bisa direkomendasikan untuk kamu yang memang pecinta horor sejati. Bagi kamu yang cukup penasaran, filmnya bisa kamu tonton di bawah ini.


Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya! Komentarmu akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi, tahukan apa maksudku?

Lebih baru Lebih lama