SMS Dibaca Penyiar Radio, Menyenangkan Pada Masanya

mendengar radio
pixabay/igorovsyannykov


Entah kenapa, saya jadi sedikit ingin mengenang masa jaya dunia SMS. Khususnya ketika SMS yang saya kirim ke radio dibaca oleh penyiar radio. Hal itu benar-benar menyenangkan, pada masanya.


Sebelum dunia perkuotaan internet muncul dan jadi kebutuhan primer, SMS pernah menguasai jagat komunikasi jarak jauh dan digandrungi orang-orang pada masa jayanya. Apalagi ketika muncul salah satu provider bernama ESIA yang menawarkan biaya SMS perkarakter. Sesuatu yang cukup menggiurkan saat itu.


Selain sebagai komunikasi jarak jauh, SMS juga sering digunakan para penyiar radio untuk bisa saling terhubung. Entah hanya sekedar request lagu, kirim salam, atau bahkan curhat ceria. Semua bisa dilakukan melalui mengirim SMS. Pada masa itu, ketika SMS kamu dibaca oleh para penyiar radio, maka bersiaplah dengan mukamu yang bisa auto mesem sendiri. Geli-geli senang rasanya.


Dulu, biasanya saya suka nongkrong di rumah sahabat kecil saya. Kami berdua memang suka hal-hal baru saat itu. Termasuk berkirim SMS ke radio kegemaran kami. Saya masih ingat, radio yang sering kami spam SMS itu radio Arbaya, radio Galuh, Galunggung Giri Sakti, Warna FM (ini yang paling sering, karena penyiarnya asik-asik dan terkesan buat anak muda banget), serta masih banyak lagi.


Konyolnya, kami kadang sering saling berkirim sapa dengan kalimat nyeleneh, padahal kami sedang di tempat yang sama. Kadang kami sering kode-kode ke gebetan masing-masing, nyuruh hal-hal tak masuk akal seperti "nyuci piring dulu" dan hal lainnya. Kami tidak peduli apakah itu faktanya membuat jengkel penyiar, atau justru mereka malah ikutan tertawa. Masa remaja yang sulit bisa diulangi lagi. Berkirim SMS ke para penyiar radio sulit tergantikan oleh sosial media apapun.


Memang, di masa ini hal tersebut masih bisa ditemui. Masih ada beberapa radio yang menggunakan SMS untuk bisa lebih aktif antara penyiar dan para pendengar. Namun entah karena sayang pulsa atau memang malas saja, masa itu sudah agak kurang seru seperti dulu. Lagipula di zaman  itu, hiburan seperti nonton YouTube masih belum ada. Mendengarkan musik melalui mp3 player pun sudah terbilang mewah. Maka, salah satu pilihan yang tepat adalah dengan mendengarkan radio.


Lagipula, zaman sekarang, radio juga sudah beralih ke media sosial untuk tetap terhubung dengan pendengar setianya. Terlebih lagi, banyak pula yang sudah mengalihkan radionya ke media streaming yang lebih modern dan bisa dijangkau para milenial yang sudah agak lupa masa lalu. Bahkan jika dulu para penikmat hiburan radio hanya bisa mendengarkan radio daerah saja, kini mereka yang masih setia, bisa mendengar radio dari berbagai wilayah terutama Bandung dan Jakarta.


Tapi jujur saja, request menggunakan media sosial itu hype-nya kurang berasa. Saat penyiar radio membaca tulisan kita juga sudah biasa saja. Dan lagi, masa jaya radio sudah mulai terkikis dengan adanya layanan podcast yang lebih digandrungi para anak muda sekarang. Sayangnya, jarang sekali yang memberikan layanan kirim SMS atau komentar di sosial media, untuk sekedar bisa berkomunikasi dengan penyiar idolanya secara langsung. Karena biasanya podcast memang jarang melakukan siaran secara langsung.


Itulah sekelumit kenangan di masa lalu, soal SMS yang dibaca oleh penyiar radio. Kenangan di atas mungkin tak cukup berkesan buatmu. Tapi untuk saya dan sahabat saya yang sekarang sedang di Kalimantan, hal itu jadi memoar betapa bedanya kami dengan anak remaja masa itu. Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sempat mengalami SMS dibaca penyiar radio? Bagaimana kesanmu? Coba ceritakan di kolom komentar.

3 Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya! Komentarmu akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi, tahukan apa maksudku?

  1. salam kompak selalu, wkwk..

    ngangenin nih, zaman SMP dulu sih sering tisam lewat radio. keknya nggak mikir pulsa sms kena berapa ya waktu itu, karena memang masih murah banget tarifnya.

    keren nih topiknya, bikin nostalgila :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, anak tempo dulu juga nih. Kalau saya dulu itu suka kirim sms karena gratisan, kalau bayar biasanya nggak mau. He.

      Hapus
  2. Kenangan banget pas jaman akhir SMA taun 2005. Biasanya saya suka titip salam sama request lagu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya! Komentarmu akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi, tahukan apa maksudku?

Lebih baru Lebih lama