Film Pendek 'Alma', Kengerian Di balik Suasana Ceria

Brilian! Itulah kira-kira ungkapan yang bisa saya sampaikan setelah menonton film animasi pendek ini. Saya menonton short film Alma ini saat masih SMA, saat sedang seru-serunya mencari berbagai macam kengerian di dunia ini. Di balik konsep animasi yang sangat ceria, Alma mampu memberi efek kejut dengan atmosfer kengerian di akhir cerita.

Sebelum membahas lebih lanjut, spoiler warning buat kamu para pembaca. Seluruh alur cerita Alma, akan saya bahas selengkap mungkin. Jadi, buat kamu yang keberatan, silakan tonton terlebih dahulu filmnya (sudah disediakan di bawah tulisan ini), lalu kembali membaca resensi tentang film ini dari sudut pandang saya. Saya suka saling berbagi pendapat tanpa harus berdebat.

Mari kita masuk!

Alur

Di sebuah jalanan sepi dengan gedung-gedung tinggi di setiap sudutnya, Alma bermain-main sendirian di tengah hujan salju. Alma berjingkat-jingkat kecil, nampaknya senang sekali. Tiba-tiba langkah Alma terhenti, corat-coret di tembok menarik perhatiannya. Di tembok itu tertulis kumpulan nama orang. Suata pertanda buruk akan terjadi pada diri Alma. Namun dengan polosnya Alma kemudian ikut menuliskan namanya di tembok itu. Cerita "petualangan" Alma yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Sesaat setelah ia selesai menuliskan namanya, pendengaran Alma teralihkan oleh sebuah suara di belakangnya. Sumber suara itu berasal dari sebuah boneka yang sudah berdiri di dinding kaca sebuah toko boneka, tepat berada di belakangnya.

Boneka itu sangat mirip dengan Alma. Mulai dari wajah, hingga pakaian yang ia kenakan pada saat itu. Hal tersebut tentu saja membuat jiwa keingin tahuan Alma tertarik.

Anak kecil berjaket tebal itu mengecek pakaian yang dikenakannya, memastikan bahwa pakaian yang dikenakan si boneka memang sama dengannya. Setelah itu, Alma kembali melihat boneka itu. Tak disangka, boneka tiba-tiba saja hilang entah ke mana.

Penasaran, Alma kemudian mencari-carinya. Ia mengintip isi dalam toko di setiap kaca yang menempel di tembok. Sesampainya di kaca pintu toko, Alma akhirnya menemukan boneka mirip dirinya berada di tengah ruangan. Alma berusaha membuka paksa pintu toko. Ia mau boneka itu menjadi miliknya. Sayang sekali, pintu toko sangat sulit dibuka. Alma sedikit kesal, ia lalu membuat sebuah bola salju dan dilemparnya ke kaca pintu. Ia pergi dengan wajah kecewa.

Belum juga ia pergi jauh, pintu toko itu tiba-tiba saja terbuka sendiri. Alma terlihat senang, keluguannya membuat ia kembali dan memasuki toko misterius itu.

Dimasukinya toko itu. Di dalamnya terlihat sunyi sepi, hanya dipenuhi dengan berbagai macam boneka lucu berbentuk wajah anak kecil. Alma memandangi boneka miniatur dirinya. Ia terlihat takjub. Saking takjubnya Alma tidak sadar bahwa pintu toko perlahan menutup sendiri. Hanya sedikit terbuka beberapa senti.

Didekatinya boneka itu, Alma bermaksud ingin mengambilnya. Langkahnya dikagetkan oleh sebuah boneka mainan berbentuk anak lelaki menaiki sepeda. Alma tak sengaja menginjaknya. Ia kemudian mengambilnya, memperbaiki posisi boneka yang sejak tadi selalu menggoes sepedanya itu. Saat posisi boneka kembali, si boneka bergerak menuju pintu toko. Gerakan yang seolah isyarat akan ada bahaya yang mengancam Alma.

Sialnya, boneka lelaki itu terlambat beberapa detik saja. Pintu toko sudah benar-benar tertutup rapat. Ia hanya bisa membanting-bantingkan dirinya ke pintu. Alma tersenyum melihat tingkah si boneka.

Tanpa sadar, boneka Alma kembali menghilang. Ia gusar, tidak mau kehilangan boneka itu lagi. Tiba-tiba saja, boneka Alma berpindah tempat ke sebuah lemari yang posisinya sulit dijangkau anak kecil seperti dirinya. Untungnya ada sebuah sofa yang bisa sedikit membantu jangkauan tangannya. Alma memaksakan diri, ia berusaha menyentuh boneka itu. Saat berhasil menyentuh wajah boneka, tiba-tiba pandangannya mulai kabur dan linglung. Sudut pandang penonton film dialihkan ke pandangan Alma. First person.

Napas Alma mulai memburu, ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Bentuk matanya terasa agak aneh, seperti terdapat bulatan kaca yang menutupinya. Tubuhnya juga benar-benar mematung, bak boneka. Dirinya panik, tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada cara untuk bisa kabur dari tempat mengerikan itu. Semua telah jadi penyesalan.

Benar saja, tubuhnya sudah diambil alihkan ke dalam boneka yang mirip dengan dirinya tadi. Sebuah kesalahan besar buat anak tak berdosa itu.

Boneka-boneka yang tersusun rapi di lemari, yang tidak pernah Alma lirik sama sekali, juga adalah korban dari kemisteriusan toko itu. Mata mereka melirik-lirik sekitar dengan tubuh yang sangat kaku tanpa bisa digerakkan. Mereka tidak bisa lepas dari kutukan toko mainan itu.

Sudut pandang kamera mulai bergerak ke bagian depan toko. Sebuah boneka baru kemudian muncul dari dalam kotak, seperti kejadian Alma tadi. Artinya, toko itu masih mencari mangsa baru dan ia sudah tahu siapa yang akan terkena kutukan selanjutnya. Filmpun berakhir.

Plus (+)

saat pertama kali menonton ini, saya benar-benar takjub. Sebab sebuah pengalaman horor baru, bisa beruntung saya temukan. Horor yang tidak melulu soal jumpscsre atau sayatan senjata tajam.

Alur film animasi ini menurut saya sangat baik dan rapi. Mulai dari suasana bahagia kemudian beralih jadi mencekam, disampaikan dengan brilian. Alih-alih memberikan tanda-tanda semisal kerasukan atau lampu toko kedip-kedip, sang sutradara lebih memilih menyampaikannya secara halus. Misalnya—yang paling saya suka—saat si boneka bersepeda, berusaha kabur dari toko. Yang sedikit agak membuat bergidik mungkin ketika pintu toko terbuka sendiri. Sisanya, diutarakan dengan halus mengikuti karakter utama film.

Sutradara juga sangat paham bagaimana cara membangun atmosfer. Hampir keseluruhan film ini dibangun dengan keluguan sang tokoh utama, Alma. Sifat ingin tahu khas anak kecil, dan kenyataan bahwa anak perempuan menyukai boneka, membuat atmosfer film ini seakan baik-baik saja. Mirip film-film Disney, kira-kira. Meski pada beberapa kesempatan, ada saja tanda-tanda yang bisa membuat bulu kudukmu sedikit berdiri saat menontonnya.

Karena ini film animasi, mungkin akan lebih adil jika bagian akting dan visualnya disatukan saja. Apa yang bisa kamu harapkan dari akting si karakter yang sejatinya digambar.

Dari segi visual, animasi ini tidak monoton dan tidak kaku. Suasana kota sepi bersalju menjadikan alasan kenapa Alma boleh berjalan sendirian. Mungkin ayah ibunya tidak terlalu khawatir jika tiba-tiba kendaraan lewat di depannya.

Visual Alma sang karakter utama juga amat sangat menarik. Manis, lucu, juga cantik. Membuat penonton di bawah umur tertarik. Sampai bisa tidak sadar bahwa mereka sedang menonton film horor.

Minus (-)

Di film karya Rodrigo Blaas ini, saya hanya tidak suka dengan sebuah pertanyaan sederhana saja. "Mengapa Alma tidak dibimbing orang tuanya?"

Saya sangat ingin tahu latar belakang sebelum kejadian itu. Apakah Alma kabur dari rumah, tidak punya orang tua, ataukah ada alasan lainnya? Mungkin itu kekurangan film ini, tidak ada alasan si kecil malang ini bisa sendirian. Soal karena suasana salju, itu hanya asumsi tanpa dasar saja.

Minus lain yang agak detail, yang bisa saya temukan adalah ketika Alma bermaksud ingin mengambil boneka dari lemari. Seharusnya Alma bisa saja memegangi pinggang si boneka, ketimbang harus susah-susah meraih wajahnya. Saya rasa, pemilik toko itu juga ingin Alma mengambil bonekanya, bukan sekedar penasaran dengan wajahnya saja.

Lalu untuk saya pribadi, horor itu tak melulu efek kejut dari setan-setanan, atau bukan hanya adegan sayat-sayatan. Horor adalah bagaimana hormon merasa terganggu dan seperti sedang mengancam kita.

Maka, film Alma sangat tidak cocok dengan kaum-kaum selain penjelasan di atas. Kalau kamu ingin horor seperti di film The Conjuring atau REC, Alma bukan jawabannya.

Skala Angka

  • Cerita: 8,5/10
  • Atmosfer: 7,5/10
  • Act dan audiovisual: 8/10
Dari skala angka untuk film ini, saya akan memberikan nilai keseluruhan yakni, 8. Apakah kamu setuju? Silakan komentar saja di bawah.

Short film Alma benar-benar memberi sajian yang berbeda di bidang kengerian. Kamu sebagai penonton tidak akan ditakut-takuti secara eksplisit, namun lebih secara sembunyi-sembunyi. Di balik atmosfer ceria, muncul ancaman yang tak pernah disangka.
Ditonton sendirian saja juga tidak masalah.



2 Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya! Komentarmu akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi, tahukan apa maksudku?

  1. wah, deretan film-film pendek mulai menarik perhatianku nih :D
    ditunggu review film pendek lainnya ya kak, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap kak Kyndaerim. Sudah banyak daftar film yang mau direview, khususnya genre horor.

      Hapus

Posting Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya! Komentarmu akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi, tahukan apa maksudku?

Lebih baru Lebih lama