Dari Terpaksa Muncul Rindu yang Tak Biasa

Terpaksa jadi rindu

Ini adalah cerita saya tentang masa lalu yang cukup berlika-liku. Kisah yang bermula dari terpaksa, jadi muncul sebuah rindu yang tak biasa. Tulisan ini sengaja saya ubah jadi sudut pandang orang kedua, biar berasa untuk saya juga pembaca. Semoga saja. Baiklah, mari kita masuk!


Suatu hari, setiap waktu, kamu berjalan kaki sekitar lebih dari satu kilometer hanya untuk berangkat sekolah. Ya, rumahmu cukup jauh dari tempat menuntut ilmu. Sebenarnya ada sekolah di dekat rumah, namun atas rundingan satu keluarga—dan lagi-lagi terpaksa—kamu memilih lokasi yang jauh. Setiap saat kamu berjalan jauh, kecuali jika libur dan hari minggu.


Perjalananmu di setiap paginya tak pula mudah. Jalan kerikil khas perkampungan, berkelok yang di setiap sudutnya penuh pepohonan, serta kadang turun kadang menanjak, wajib kakimu tuntaskan. Butuh waktu sekitar 15-20 menitan untuk mencapai sekolahan.


Kalau mau kurang dari itu, kamu bisa saja. Berarti kamu musti melewati hutan kecil dan jalan setapak pesawahan. Tentu dengan konsekuensi sepatumu dilumuri tanah basah dan kotoran. Hei, jangan lupa, kakimu juga bisa saja nyungseb masuk genangan. Seperti pengalaman temanmu yang pernah kesialan.


Ketika tiba di sekolah, kamu sudah terbiasa dengan kain seragammu yang basah. Penuh keringat efek lelah. Apalagi jika sepatumu berlumuran tanah, temanmu pasti akan selalu bertanya, "Day, darimana saja? Habis nyawah?" Kamu tahu itu cuma becandaan, kamu bisa ikut ketawa soalnya.


Dengan perjalanan yang cukup melelahkan itu, kamu dipaksa belajar sejak pukul tujuh lebih lima belas. Itu artinya, kamu hanya memiliki waktu sekitar dua puluh menit untuk istirahat. Waktu yang sebetulnya kurang, apalagi kegiatan itu setiap hari terus berulang.


Kegiatan belajarmu dan pikiranmu kadang bisa jadi ikhlas, kadang pula malah jadi stres. Belum siap menghadapi materi baru, apalagi semalam kamu  habis mengerjakan tumpukan tugas. Belum lagi, tiap subuh kamu juga harus pergi mengaji. Bukan mengaji biasa, tapi belajar kitab-kitab kuning polos tanpa terjemah. Terbayang kan, bagaimana rasanya?


Bel istirahat juga bukan sesuatu yang spesial. Kamu tidak akan keluar main-main atau sebatas jajan. Kamu biasa menghabiskannya dengan mengurung diri di kelas, melakukan kegiatan yang kamu suka saja. Menulis, atau tidur misalnya. Sesekali stalking blog sendiri yang masih saja sepi.


Sehabis kegiatan belajar, maka pulanglah kamu. Ya jelas! Tentu. Nongkrong ke sana-sini bukan tipe karaktermu. Kalau dilakukan malah bisa tambah lelah, malah bisa tambah memberatkkan langkah esok harimu.


Pukul 15:30 kamu terpaksa berjalan kaki kembali. Terik panas langit sudah sangat akrab menemani. Kadang, alas sepatu lusuhmu seperti meleleh disengat api. Jalanan batu bersuhu lumayan panas kadang menyakiti. Muka menghitam, rambut tanpa pomade jadi kering, keringat juga jauh lebih deras sampai seperti habis mandi. Beuh capek sekali memaksakan diri.


Kalau lelahmu sudah sampai mencapai batas, melamunkan hal-hal menyedihkan di perjalanan sering kamu lakukan. Bayang-bayang pengalaman hidup yang menurutmu sama sekali tidak adil, kamu adukan pada Tuhan. Hancur, perih, apalagi kenyataan lain menyebutkan kamu terbiasa berjalan sendirian. Artinya kamu ditemani kesepian sepanjang perjalanan.


Kamu juga sering menyadari bahwa jalan hidup ini bukanlah rencanamu. Semua hanya terjadi akibat dari keterpaksaan yang mengikat tubuh. Lantas tanpa disengaja pikiran menentang semua itu. Sepanjang perjalanan pulang, kamu jadi mati suri dalam setiap langkah kakimu.


Sampai rumah, kamu benar-benar...


Sebentar, ada ribut-ribut di luar. Ada insiden tabrakan, antara motor dan ayam. Ramai sekali, sampai-sampai ada yang teriak, "ganti rugi... Ganti rugi...!"


Oke, lanjut.


Sampai di rumah kamu benar-benar lelah dan mulai memasang rasa bersyukur. Memang benar, untuk introver sepertimu, rumah adalah tempat istirahat paling masyhur. Merebahkan badan sehabis salat, kemudian tidur. Kadang tenang, kadang sampai mendengkur. Esok pagi, kamu dan seragam baumu harus kembali bertempur.


Sebuah kisah keterpaksaan itu, yang dulunya sempat dihujat dan dicaci maki diri sendiri, kini jadi rindu yang penuh arti. Rindu yang tak biasa, rindu yang tidak semua orang bisa mengalaminya.


Hari ini kamu tidak lagi mengalaminya. Kisah itu sudah dibungkus dengan kado dan pernak pernik penghias bungkusnya. Kenangan dari sebuah keterpaksaan itu akan jadi kado spesial jika di kemudian hari kamu ingin membukanya.

Keterpaksaan itu sudah jadi memoar taman kenangan, layaknya taman-taman dalam pikiran Riley di film Inside Out. Bukan lagi hanya sebuah bola bersinar yang sewaktu-waktu bisa memudar, bukan lagi sebatas kenangan yang bisa terlupa lalu dibuang ke jurang begitu saja. Kenangan itu, keterpaksaan itu, sudah jadi catatan masa lalu sebagai pengingat di lain waktu. Kamu, pernah mengalami semua itu.


Tulisan ini telah diikutsertakan pada sebuah kegiatan di komunitas #1Minggu1Cerita. Sebuah wadah yang baru saja saya temukan, dan saya menyukainya.

 

Update:

Sebuah apresiasi yang bisa dan akan saya kenang lama. Terima kasih dan semoga, sesuai tujuan awal, tulisan ini serta yang lainnya dapat memberi manfaat meski hanya sedikit saja. Terima kasih sekali lagi, untuk para member 1minggu1cerita.


1minggu1cerita

3 Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya! Komentarmu akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi, tahukan apa maksudku?

  1. wah keren, keterpaksaan dimasa lalu untuk menjadi lebih baik. kemudian menjelma kenangan manis karena telah memilih jalan tersebut.

    BalasHapus
  2. Cerita yang dikemas rapi. Nilai moral yang terselip implisit, selain itu pembaca seoalah-olah merasakan pengalaman penulis. Terus berkarya, buat tulisan-tulisan menarik lainnya!.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya! Komentarmu akan dimoderasi terlebih dahulu. Jadi, tahukan apa maksudku?

Lebih baru Lebih lama